Pada awalnya sempat
terlintas di benak saya, Apa yang bisa dilakukan anak sekecil itu? (Anak Usia
Dini), Apa iya anak sekecil itu dapat mengerti, memahami apa yang saya
katakan?. Waktu itu secara tidak langsung saya telah meremehkan kemampuan
seorang anak kecil, dan akhirnya sekarang saya menyadari kalo di masa itulah
perkembangan otak anak berkembang sangat pesat, luar biasa istimewa. Dan itupun
sekali seumur hidup. Jadi sangat disayangkan kalo momen itu sampai terlewatkan.
Stimulus sangat diperlukan sekali untuk mendukung perkembangan kecerdasan anak,
terutama orang tua, keluarga, lingkungan dll.
Kok jadi ceramah
yah?*-*. Oke deh langsung saja disimak, hayati, dan renungkan, asal jangan
kebanyakan menghayal***.
·
Pengertian Masa Usia Emas Anak Usia Dini (Golden Age).
Keistimewaan
anak sangat berbeda-beda, untuk menghadapi tentunya sangat menguji kesabaran.
Salah satu caranya adalah dengan menerapkan disiplin pada anak tanpa
menghukumnya secara berlebihan bila sang anak melakukan kesalahan. Untuk
menegakkan disiplin tersebut, orangtua dapat memulainya dengan membuat
perjanjian kecil dengan sang anak agar mengerti mana hal yang baik dan benar,
namun dengan cara yang tidak menyinggung mereka. Di atas semua itu, sangat
penting bagi orangtua untuk menjaga komunikasi, bersabar dan lebih memberikan
kasih sayang pada sang anak, serta mencurahkan perhatian terhadap semua tingkah
lakunya agar tetap berada dalam kontrol. Di sini sangat membutuhkan peran besar
orang tua.
·
Masa Balita
adalah golden ages.
Beberapa penelitian
menunjukkan betapa istimewanya masa usia dini ini, yaitu masa 5 tahun ke bawah, yang merupakan golden ages (masa keemasan) bagi perkembangan kecerdasan anak. Terkait
dengan perkembangan kecerdasan, Bloom dkk. mengemukakan bahwa sekitar 50% kapasitas kecerdasan
seseorang telah selesai terbentuk saat anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30%
berikutnya terjadi lagi pada rentang usia 4 hingga 8 tahun, dan 20% sisanya
terjadi pada rentang usia 8 hingga 18 tahun. Dan setelah itu walaupun dilakukan
perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan,
(Diatas usia 18 tahun tinggal perbanyak amal ibadah saja) *<>*.
Ini artinya,
kecerdasan yang terbentuk pada rentang 4 tahun pertama sama besarnya dengan
peningkatan kecerdasan pada rentang usia 14 tahun berikutnya. (perbandingan
yang luar biasa). Untuk itulah betapa pentingnya memberikan stimulus pada anak
dini usia.
Setiap bayi memiliki potensi milyaran sel otak
yang siap mendapat, stimulus, sentuhan. Sebagian ahli berpendapat, sel otak
seorang bayi sebanyak bintang yang bertebaran di langit.
Ada
pula yang menduga, jumlah sel otak kurang lebih 100 milyar. Seluruh sel ini
punya peran penting dalam menunjang fungsi otak sebagai pengatur semua kemampuan
manusia di masa dewasa. Namun, meski ada milyaran sel otak, nyatanya tak
semuanya berkembang sempurna, karena amat tergantung pada stimulasi yang
diterimanya.
Konsultan
Keluarga Budi Darmawan, menyatakan stimulasi ini memang amat menentukan sejauh
mana jaringan sel-sel otak dapat berkembang. Jika sedikit mendapat stimulasi,
bisa jadi yang berkembang hanya 1 persen dari sekian milyar sel otak.
Sebaliknya, bila stimulasinya banyak, perkembangannya pun bisa lebih besar lagi.
Maxwell Malt,
seorang peneliti asal Amerika mengemukakan pendapatnya tentang hubungan sel
otak yang aktif dengan kecerdasan. Bila manusia dapat mengaktifkan sekitar 7
persen saja dari sel otaknya, ujar Malt, maka gambaran kecerdasan orang itu
adalah bisa menguasai 12 bahasa dunia, memiliki 5 gelar kesarjanaan, dan hapal
ensiklopedi lembar-demi lembar, huruf demi huruf, yang satu setnya terdiri dari
beberapa puluh buku. Menanggapi ini, Budi Darmawan menyatakan, “Kalau kemampuan
itu digunakan seorang muslim untuk menghafal, tentu dia mampu menghapal Al-Qur’an
dan sunnah Rasulullah sekaligus.”
Lima tahun
pertama kehidupan anak merupakan masa pesat perkembangan otak hingga masa ini
sering disebut sebagai golden periode. Bahkan, anak di usia 5 tahun pertama
diketahui punya kemampuan photographic memory, mengingat seperti mata kamera.
Kemudian di atas lima tahun, kemampuan memorinya menurun. Tidak sehebat dan
sepeka di masa keemasan ini.
Itu sebabnya,
target orang tua setiap hari adalah bagaimana caranya mengisi otak dengan
maksimal dengan memberi stimuli yang maksimal pula. Meskipun begitu, jangan
tergesa-gesa. Bila suatu ketika guru atau orangtua ingin anaknya mampu menulis,
membaca dan berhitung di usia dini, sama saja mereka tengah menghilangkan beberapa
aspek kehidupan anak.
Karena sebelum
melakukan ketiga hal tersebut, ada tahapan yang harus dijalani. Sebelum bisa
menghitung, anak harus bisa menggambar. Sebelum bisa menggambar, anak harus
mampu memegang pensil. Sebelum mampu memegang pensil, maka anak perlu melatih
motorik halusnya misalnya dengan bermain pasir. Dengan bermain pasir, anak
sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya dan belajar estimasi dengan
menuang atau menakar, yang kelak semua itu ada dalam matematika.
Oleh karena
itu, ibarat sebuah bangunan, pondasi amat menentukan kokohnya bangunan
tersebut. Bagi anak, menurut Fasli Jalal, PhD, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah
dan Pemuda, Depdiknas, Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pondasi yang amat
menentukan perkembangan selanjutnya. Sebab itu ia mengingatkan, “Kalau tidak
baik pondasi yang kita bangun di usia dini, bangunan tidak akan kokoh.”
Dan yang terakhir akan lebih baik jika anak-anak,
adik-adik tersayang kita dimasukkan ke PAUD, di sana anak-anak akan belajar
menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa
ingin tahu yang besar, bisa mengambil dan mengembangkan ide, cepat beradaptasi,
semangat untuk belajar, dan tentunya persiapan
untuk memasuki Sekolah Dasar, Byrnes (peraih gelar Woman of the Year dari
Vitasoy di Australia)-Lembaga PAUD.
Sampai disini,,,
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Sumber:
paudjateng.xahzgs.com/2015/03/7-alasan-pentingnya-pendidikan-anak-paud-menurut-para-ahli.html?m=1
belajarpsikologi.com/pentingnya-pendidikan-anak-usia-dini/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar